Tiga Bentuk Jahiliyyah dalam Islam

By. Abid Rauf - 29 Nov 2024

Bagikan:
img

Batemuritour.com - Jahiliyyah secara harfiah berarti "keadaan kebodohan," dan dalam konteks Islam, istilah ini merujuk pada masa sebelum turunnya Islam, yang ditandai dengan kebodohan spiritual, moral, dan sosial. Meski istilah ini sering dikaitkan dengan era sebelum kenabian Rasulullah , Islam mengajarkan bahwa bentuk-bentuk jahiliyyah masih dapat muncul di berbagai zaman, termasuk di era modern.

Berikut adalah tiga bentuk utama jahiliyyah yang dikenal dalam Islam dan pelajaran yang dapat diambil darinya.

1. Jahiliyyah Aqidah (Kesesatan Keyakinan)

Bentuk utama jahiliyyah adalah penyimpangan dalam aqidah atau keyakinan. Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab percaya kepada banyak dewa dan dewi, menjalankan ritual penyembahan kepada berhala, dan bahkan mempercayai benda mati seperti batu atau pohon sebagai tuhan. Hal ini bertentangan dengan tauhid, ajaran utama dalam Islam yang menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Ciri-ciri Jahiliyyah Aqidah:

  • Penyembahan berhala atau benda selain Allah.
  • Kepercayaan kepada takhayul dan mitos yang tidak berdasar.
  • Kurangnya keimanan kepada kehidupan setelah mati.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengingatkan:

"Maka apakah patut kamu menganggap al-Lata dan al-Uzza dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian, sebagai anak perempuan Allah?"
(QS. An-Najm: 19-20)

Islam menghapus jahiliyyah aqidah ini dengan mengajarkan tauhid murni dan memerangi segala bentuk kemusyrikan.

2. Jahiliyyah Akhlak (Penyimpangan Moral)

Bentuk kedua jahiliyyah adalah penyimpangan dalam akhlak dan perilaku. Pada masa jahiliyyah, masyarakat Arab dikenal dengan berbagai tindakan amoral, seperti:

  • Kezaliman terhadap perempuan: Wanita dianggap sebagai barang milik dan sering kali diperlakukan secara tidak manusiawi, termasuk tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup.
  • Perjudian dan mabuk-mabukan: Kebiasaan berjudi dan meminum khamr adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
  • Kebrutalan dan pembunuhan: Peperangan antar suku sering kali terjadi tanpa alasan yang jelas.

Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak manusia. Beliau bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
(HR. Ahmad)

3. Jahiliyyah Sosial (Ketimpangan dan Ketidakadilan)

Jahiliyyah sosial merujuk pada sistem masyarakat yang tidak adil dan penuh ketimpangan. Pada masa pra-Islam, struktur sosial didominasi oleh suku-suku kuat yang menindas suku-suku kecil. Perbudakan, eksploitasi, dan diskriminasi berdasarkan keturunan atau kekayaan adalah hal yang lumrah.

Contoh Jahiliyyah Sosial:

  • Kasta sosial yang menempatkan orang miskin dan budak sebagai warga kelas rendah.
  • Hak-hak perempuan diabaikan, sehingga mereka tidak memiliki warisan atau suara dalam keputusan keluarga.

Islam menghapus ketidakadilan ini dengan ajaran persamaan manusia di hadapan Allah. Dalam khutbah terakhirnya, Rasulullah menegaskan:

"Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, atau non-Arab atas Arab, kecuali dengan ketakwaan."

Tiga bentuk jahiliyyah—jahiliyyah aqidah, akhlak, dan sosial—mengajarkan kita tentang bahaya kebodohan spiritual, moral, dan sosial. Islam datang sebagai rahmat untuk menghapus semua bentuk jahiliyyah dengan ajaran tauhid, akhlak mulia, dan keadilan sosial. Sebagai Muslim, kita harus terus memperbaiki diri agar tidak terjebak dalam perilaku atau keyakinan yang menyerupai jahiliyyah di era modern ini.

Wallahua’lam

 









Whatsapp Logo
Start a Conversation Hi! Click one of our member below to chat on Whatsapp